Home  / Article
Tak Menjaga Laut, Manusia Akhirnya Memakan Plastik
Selasa, 7 Agustus 2018 | 09:56:58
tirto.id/Arimacs Wilander
Botol-botol plastik bekas minuman kemasan terapung di permukaan air laut Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jakarta Utara, Jumat (22/6/2018).
Memakan ikan, kerang, cumi, garam, atau meminum air minum kemasan, semua ada bonusnya: mikroplastik.

Kita memakan plastik. Itu kesimpulan dari Christina Thiele dan Malcolm David Hudson, peneliti dari University of Southampton, yang mereka tulis dalam "Anda Memakan Plastik Mikro dalam Cara yang Tak Tarbayangkan". Umat manusia tak hanya memakan plastik lewat ikan dan kerang, tapi banyak makanan lainnya.

Sebelumnya, pada Maret 2018 lalu, beberapa media internasional seperti BBC (pdf) menyiarkan penelitian yang dilakukan oleh State University of New York bersama Orb Media. Para peneliti menguji 259 botol air minum dari 11 merek di 8 negara, termasuk Indonesia. Ternyata, 93 persen air mineral botol yang menjadi sampel, terpapar mikroplastik.

Memang, belum ada kajian tentang bahaya mikroplastik ketika ia dikonsumsi manusia. Namun, Sherri Mason, profesor kimia dari State University of New York menyampaikan bahwa mikroplastik dapat berimbas pada kehidupan ekosistem daerah tersebut.

"[Penelitian] ini bukan hendak menuding merek tertentu, tapi menunjukkan bahwa [plastik] ini ada di mana-mana, menjadi bahan yang merangsek ke dalam masyarakat kita, dan meliputi air-semua produk yang kita konsumsi sehari-hari," ungkap Mason seperti dikutip BBC.

Tak hanya itu, seorang ahli zoologi bernama Lucy Quinn, seperti ditulis BBC, menunjukkan ihwal bahwa studinya terhadap burung fulmar yang mati di pantai. Quinn menemukan bahwa burung fulmar yang mereka temukan mengandung 39 partikel plastik, dengan berat 0,32 gram.

"Saya tercengang ketika saya melihat balon di kerongkongannya, yang mungkin telah menyebabkan kematiannya, bersama bungkus plastik, sikat gigi dan bungkusnya. Saya merasa sangat prihatin dan harus melakukan sesuatu," kata Quinn.

Plastik-plastik itu sangat mungkin merusak kesehatan burung tersebut, dan memengaruhi kemampuan untuk berkembang biak, bahkan membunuhnya.

Kondisi Cemaran Plastik di Laut

Berdasarkan studi "Plastic Pollution in the World's Oceans: More than 5 Trillion Plastic Pieces Weighing over 250.000 Tons Afloat at Sea" yang dilakukan Marcus Eriksen, dkk, diperkirakan ada lebih dari 5,25 triliun partikel plastik mengambang di lautan, dengan berat mencapai 268.940 ton.

Penelitian tersebut mereka lakukan di tahun 2007 hingga 2013 dengan 24 perjalanan di beberapa perairan seperti pesisir Australia, Teluk Benggala, dan Laut Mediterania. Plastik yang mereka temukan dikelompokkan menjadi empat: 0,33–1,00 mm (mikroplastik kecil), 1,01–4,75 mm (mikroplastik besar), 4,76–200 mm (mesoplastik), dan 200 mm
(makroplastik). Jika ditotal, dua jenis mikroplastik mencapai 92,4 persen dari jumlah partikel plastik secara keseluruhan.

"Wilayah laut bagian utara mengandung 55,6% partikel plastik dan 56,8% massa plastik jika dibandingkan dengan belahan laut selatan, dengan wilayah lautan Pasifik Utara mengandung 37,9% partikel plastik dan 35,8% massa plastik," tulis Eriksen, dkk dalam penelitian mereka.

Dalam penelitian tersebut, mereka juga menemukan bagian selatan Samudera Hindia memiliki partikel yang lebih besar dan lebih berat dari jumlah gabungan jumlah sampah plastik antara Atlantik Selatan dan Pasifik Selatan.

Jenna R. Jambeck, dkk (pdf), dkk pernah melakukan survei tentang kondisi perairan 192 negara pesisir, termasuk Indonesia. Para peneliti memperkirakan terdapat sampah plastik sebesar 4,8 hingga 12,7 juta MT masuk ke laut atau 1,7 hingga 4,6 persen dari total sampah plastik.

"Perkiraan kami tentang limbah plastik yang masuk perairan samudera adalah satu hingga tiga kali lipat lebih besar dari plastik yang mengambang di laut," tulis Jambeck, dkk.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal cemaran plastik di lautan, yakni sebesar 0,48 hingga 1,29 juta metrik ton per tahun, di bawah Cina yang memiliki cemaran plastik sebesar 1,32 sampai 3,53 juta metrik per ton.

Kondisi Perairan Indonesia

Saat ini Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) tengah melakukan penelitian terhadap cemaran plastik dan mikroplastik di Indonesia. Salah seorang peneliti, Reza Cordova, menyampaikan berdasarkan hasil penelitian sementara yang ia lakukan selama 6 bulan ini, 30-40 persen sampah yang berada di perairan Indonesia merupakan sampah plastik. Peneltian tersebut mereka lakukan dengan pembagian 6 kawasan di Indonesia, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Lombok, serta Papua.

"Ini berkaitan erat dengan pola masyarakat membuang sampah. Jadi dalam hal ini, ketika musim hujan, relatif masyarakatnya membuang sampah ke sungai, dibandingkan di musim kemarau. Jadi masyarakat masih menganggap sungai sebagai tempat sampah. Padahal sungai itu ujung-ujungnya ke laut," tutur Reza.

Dalam penelitian yang dilakukan Reza sejak 2015 hingga 2016 itu, seluruh area laut dan pesisir Indonesia, seluruhnya tercemar oleh mikroplastik, tapi jumlahnya tak lebih banyak bila dibandingkan dengan Cina dan California. Meski begitu, Reza mengungkapkan bahwa sebagian besar ikan kecil di lautan Indonesia telah terkontaminasi oleh mikroplastik.

"Kalau di ikan jadi sedikit masalah, kurang lebih 75 persen ikan kecil seperti ikan teri, ikan kepala timah, itu mengkonsumsi mikroplastik. Untuk ikan ukuran besar, kami belum selesai analisis, karena harus satu per satu," ujar Reza.

Penelitian tentang cemaran mikroplastik pada ikan juga pernah dilakukan oleh Sofi H Amirulloh, dkk. Dalam studi tersebut, mereka meneliti 179 sampel dari 90 spesies, 70 genera, dan 44 famili, yang diambil dari beberapa pasar ikan di Terate, Karangantu, dan Domas, dan ditemukan hasil bahwa lebih dari 80 persen ikan laut konsumsi di Teluk Banten mengandung partikel mikroplastik.

"Pada level spesies, 73 spesies dari 90 spesies observal terdeteksi mengkonsumsi mikroplastik (81%), top 3 spesies tersebut yaitu Scatophagus argus, Kathala axillaris, dan Epinephelus coioides. Pada level genera, 58 dari 70 genera (82%) terdeteksi mengakumulasi mikroplastik. Sedangkan pada level suku (family), 38 dari 44 family (86%) telah mengkonsumsi mikroplastik," tulis Amirulloh, dkk.

Peneliti Laboratorium Data Laut dan Pesisir Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Widodo S. Pranowo menyampaikan bahwa mikroplastik patut diwaspadai. Widodo mengatakan masyarakat tak hanya patut mewaspadai mikroplastik, tapi juga nanoplastik.

"Yang justru sekarang teman-teman waspadai itu yang nanoplastik. Itu juga wajib kita waspadai, karena secara logika, yang mikro bisa jadi nano, kalau nano itu kemungkinan bisa masuk ikan tinggi, jadi kalau nano kemungkinan bisa masuk ke dalam daging. Beberapa peneliti fokus ke situ," ujar Widodo.

Berdasarkan data yang dipegang Widodo, cemaran mikroplastik terbanyak berada di perairan yang memiliki kepadatan penduduk daratan tertinggi, seperti di Laut Jawa. Selain itu, faktor yang mempengaruhi jumlah cemaran mikroplastik yang lain adalah jalur pelayaran.

Di Indonesia, terdapat 3 jalur pelayaran internasional yang disebut Arus Lintas Kepulauan Indonesia (ALKI). Dari ketiga wilayah tersebut, Jalur ALKI 1 (Selat Malaka, Natuna, dan Selat Karimata) dan ALKI 2 (Laut Sulawesi, Selat Makassar, Persimpangan Laut Jawa-Laut Bali, Selat Lombok, dan Samudera Hindia) memiliki cemaran mikropastik lebih tinggi jika dibandingkan dengan ALKI 3 (Halmahera, Laut Banda, dan Nusa Tenggara). Masuk akal, sebab pada jalur ALKI 1 dan ALKI 2 terdapat lalu lintas laut yang ramai.

Bahaya Mikroplastik

Hingga saat ini, belum ada studi yang mengungkapkan bahaya mikroplastik bagi manusia. Namun, Reza Cordova dari LIPI mengatakan bahwa kinerja otak dari ikan yang tercemar plastik dapat terganggu.

"Ikan yang mengkonsumsi nanoplastik, akan terganggu perilaku ikannya. Ukuran nanoplastik itu kan sama seperti sel darah, harusnya darah membawa nutrisi, namun ini akhirnya justru masuk ke otak, kinerja otak terganggu, misalnya mengalami gangguan pola berenang, pola makan," kata Reza.

Selain ikan, mikroplastik juga berdampak pada kesuburan tiram.

Dilansir Sydney Morning Herald, Ketua Asosiasi Profesor Melbourne University Andrew Pask mengatakan bahan kimia yang terkandung dalam plastik dapat menyebabkan penis menyusut, dan bayi laki-laki terlahir dengan catat genital. Penelitian tersebut ia lakukan terhadap hewan yang terpapar bahan kimia.

"Paparan terhadap bahan kimia ini menjadi masalah reproduksi paling penting untuk pria," tutur Pask seperti dikutip Sydney Morning Herald.

Pask menyampaikan, dalam penelitian itu beberapa plastik dapat melepaskan bahan kimia yang mengganggu endokrin, yang memiliki efek pada infertilitas, dan hipospadia.

Bahan kimia yang memiliki efek pada manusia tersebut diantaranya bisfenol A (BPA), ftalat (yang digunakan dalam plastik), paraben (dalam pasta gigi dan produk kecantikan), serta atrazin (pada herbisida).


(tirto.id - Widia Primastika)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Kompol Heni Mulyono ST, Jabat Komandan KN. Belut Laut - 4806
Bakamla RI Bersama TNI AL Perketat Pengawasan Perairan Laut Indonesia
Manfaat Sasi Laut bagi Alam dan Masyarakat
Tim URCL Bakamla RI Bersama Japan Coast Guard Siap Berantas Tindak Kejahatan Di Laut
Panglima TNI: Kemanunggalan TNI dan Rakyat Konsekuensi Logis Dalam Menjaga NKRI

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad