Home  / Article
Senjakala Labelisasi ‘Kampret’ dan ‘Cebong’
oleh: Andri Saubani*
Senin, 30 Juli 2018 | 09:11:44
ANTARA FOTOPuspa Perwitasari
Jokowi dan Prabowo naik kuda.
Politik selalu membuktikan adagiumnya, 'Tidak ada lawan atau kawan yang abadi." Sehingga publik pun semestinya tak usah bingung atas fenomena-fenomena jamak semisal; politikus lompat pagar, kader berganti baju parpol, atau para oposan akhirnya melebur ke dalam kekuasaan.

Sebelum mengulas peta politik kekinian, perlu dikilas balik pertarungan dua arus utama kekuatan politik sejak empat tahun silam. Pascakemenangan Jokowi di Pilpres 2014, tak pernah ada rekonsilisasi antarkedua kubu yang berperang yang kemungkinan berlanjut hingga 2019. Lebih sengit tentunya di dunia maya alias media sosial.

Kubu pendukung Joko Widodo (Jokowi) dikenal dengan julukan 'cebong', sementara kubu penyokong Prabowo Subianto dilabeli 'kampret'. Mereka tiada henti berperang di dunia maya sudah seperti membela agama demi akhirat. Di dunia nyata, saling lapor ke kepolisian jadi ekses perang hujat, olok-olok, atau menggali aib lawan.

Para 'kampretos' selalu menuding penguasa menyalahgunakan kekuasaan untuk mengkriminalisasi lawan politik. Sementara 'cebongers' kerap menuduh rival mereka selalu menjual isu agama dan SARA untuk tujuan politiknya.  

Belakangan muncul fenomena baru menuju 2019 yang bernama perang tagar. Yang satu kampanyenya dengan hashtag #2019GantiPresiden, satu lagi tagarnya #DiaSibukKerja. Perang tagar tidak hanya di medsos, tapi pernah juga sampai bentrok pada hari bebas kendaraan di Jakarta.

Pada perjalanannya, memang tidak semua parpol anggota koalisi yang teguh menjadi oposisi, sebut saja Golkar, PPP, atau bahkan PAN yang masing-masing kemudian mendapat jatah menteri dari Jokowi. Plot politik di Tanah Air jelang Pileg dan Pilpres 2019 pun kemudian menghadirkan tontonan yang mungkin bisa sampai membuat bingung untuk membedakan mana 'kampret' mana 'cebong'.

Bagaimana dunia politik tak dibuat kaget, misalnya, saat seorang Kapitra Ampera daftar menjadi calon legislatif (caleg) dari PDIP. Kapitra adalah pengacara Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Dia juga adalah aktivis Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang gerakannya dahulu kencang mendorong cagub DKI dukungan PDIP, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara atas kasus penistaan agama.

Sebelum Kapitra, ada nama Ali Mochtar Ngabalin yang pada 2014 menjadi tim sukses Prabowo, kini merapat ke kubu Jokowi. Ngabalin kini menjadi tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden plus bonus jabatan komisaris salah satu BUMN. Banyak yang tahu Ngabalin dulu begitu frontalnya menyerang Jokowi, namun kini merapat ke istana dengan alasan klise, "politik itu dinamis."

Yang paling bikin heboh tentunya, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) yang mengumumkan dukungannya kepada Jokowi menjadi presiden dua periode. TGB yang digadang-gadang menjadi salah satu pemimpin masa depan, kini harus rela dicoret dari 'keanggotaannya' dari kubu Koalisi Keumatan. TGB bahkan sampai mundur dari Partai Demokrat.

Kapitra, Ngabalin, dan TGB tentunya tidak akan jadi yang terakhir. Setahun jelang Pilpres 2019 pasti masih akan ada kejutan, termasuk kemungkinan adanya juga perpindahan dari kubu Jokowi ke Prabowo atau skenario pembentukan poros ketiga.

Apalagi jika Mahkamah Konstitusi nantinya mengabulkan gugatan ambang batas presidensial (presidential threshold). Bisa dibayangkan, polarisasi koalisi saat ini bisa bubar jalan jika MK mengabulkan gugatan yang menginginkan dihapuskannya presidential threshold (PT) alias PT 0 persen.

Entah apakah perang antara 'cebong' dan 'kampret' akan bisa berakhir dan labelisasi saling merendahkan itu bisa hilang pada atau seusai Pilpres 2019. Tetapi, yang pasti bangsa ini tidak bisa terus saling bermusuhan hanya karena kepentingan politik para elite.

Seorang Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) bahkan sampai mengutip Surat Al-Hujurat ayat 11 dan 12 demi mengimbau umat untuk tidak lagi saling menghujat. Alasannya, Allah SWT telah menetapkan enam larangan.

Larangan yang pertama, jangan mengolok-olok suatu kaum karena bisa jadi kaum yang diolok-olok itu derajatnya lebih tinggi di sisi Allah. Larangan kedua, jangan saling mencela.

Larangan ketiga, jangan saling memanggil dengan sebutan atau gelar yang buruk. Allah menciptakan manusia dengan mulia, maka jangan panggil-memanggil manusia dengan sebutan atau gelar yang buruk.

Larangan keempat, jangan berburuk sangka. Cari seribu satu alasan untuk berbaik sangka kepada orang yang beriman. Larangan kelima, kata Aa Gym, jangan menggali-gali aib orang lain. Artinya jangan mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain.

Larangan keenam, jangan melakukan ghibah. Orang yang melakukan ghibah hukumnya seperti memakan bangkai saudaranya yang sudah mati.

Lewat Surat Al Hujurat, Allah tidak menjelaskannya secara umum dengan memerintahkan manusia untuk berbuat baik saja. Namun, Allah menjelaskan secara detail larangan-larangan tersebut. Jikalau manusia bisa melindungi diri dari enam larangan itu, maka hampir sempurnalah keIslamannya.


*penulis adalah redaktur Republika.

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Dana Kelurahan Sarat Muatan Politik, Timses Jokowi Berang
Besok, Sidang Sengketa Informasi SKK Migas Digelar
Panglima Kogasgabpad Palu Pimpin Apel 165 Personel Danramil dan Babinsa
Lokalisasi Maredan Terbakar, Satu Tewas Terpanggang
Atraksi Beladiri Yongmoodo Warnai Sertijab Dandim Kampar Dan Danyonif 132/BS

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad