Home  / Article
Wahidin Sudirohusodo, Pensiunan Dokter yang Jadi Bidan Pergerakan
Sabtu, 26 Mei 2018 | 23:38:43
tirto.id/Sabit
Wahidin Soedirohoesodo (1852-1917).
Gerak penggagas.
Laku luhur pembebas
rakyat tertindas.

Sejarah pergerakan nasional Indonesia erat dengan nama Dokter Wahidin Sudirohusodo. Ia bukan dokter yang hidup untuk memperkaya diri. Wahidin peduli pada orang-orang yang disebut bumiputra atau oleh orang-orang Belanda sering disebut sebagai Inlander. 

Wahidin ingin para bumiputra terdidik dan bisa maju dengan jalur sekolah. Usaha itu setidaknya sudah dilakukan Wahidin sejak 1906 dengan berkeliling Pulau Jawa menggalang dana pendidikan. "Wahidin Sudirohusodo terlebih dahulu telah mengambil inisiatif untuk membantu anak-anak pribumi guna memperoleh pendidikan yang lebih baik," tulis Anhar Gonggong dalam Muhammad Husni Thmarin (1985:15). Upayanya mendapat dukungan beberapa bangsawan tradisional. 

Selain itu, usahanya cukup dipuji segelintir orang Belanda. Seperti dikutip buku 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Jejak Boedi Oetomo: Peristiwa, Tokoh dan Tempat (2008:37-42) dari artikel Van Een Studiefonds voor Inlander di Koran Jave Bode (05/11/1906), JE Jasper menulis "akhir-akhir ini telah nampak suatu usaha menggembirakan di kalangan kaum bumiputra untuk mengusahakan pendidikan yang baik bagi anak-anak mereka."

Saat itu, kalangan bumiputra yang sadar sekolah masih sangat terbatas dan hanya berasal dari kalangan berada demi mengejar status sosial sebagai abdi pemerintah "hanya bercita-cita agar anaknya kelak menjadi pegawai negeri" Jasper menilai kondisi itu akan menjadi masa lalu setelah upaya perbaikan pendidikan kaum bumiputra.

Ide memajukan pendidikan bumiputra ditempuh dengan pembiayaan pendidikan (studiefond), juga ada di kepala Raden Ajeng Kartini, dan diperjuangkan juga oleh Pangeran Notodirodjo, Wahidin, dan Raden Mas Tirto Adhi Surjo. Ketiga orang itu pada 1906 berhasil mengumpulkan 400-500 donatur. Cara yang ditempuh Wahidin adalah dengan menghadap para bupati yang pada kenyataannya susah diharapkan. Namun, Wahidin terus mempropagandakan ide-idenya khususnya soal pendidikan bagi bumiputra. 

Saat di Jakarta, upaya pengumpulan dana atau studiefond bertujuan untuk membantu urusan biaya sekolah hingga anak-anak agar terdidik juga dilakukan oleh Wahidin. Ide Wahidin mendapat momentum saat perjumpaannya dengan Dokter Soetomo, yang setelahnya sebagai pendiri organisasi Boedi Oetomo. Soetomo tidak akan lupa pertemuannya dengan Wahidin, saat ia masih kuliah di Sekolah Dokter Jawa alias School tot Opleiding voor Indisch Artsen (STOVIA) di Kwitang, Jakarta, pada 1907.

"Penghabisan tahun 1907, datanglah dokter Wahidin Sudirohusodo Almarhum ke Jakarta untuk mengaso dari perjalanannya kemana-mana guna mendirikan studiefond, agar anak-anak (Indonesia yang cerdas) bisa meneruskan pelajarannya," kata Soetomo pada 1934, yang diabadikan dalam buku Kenang-kenangan Dokter Soetomo (1984:165-167) yang disunting Paul van der Veur. Pada 1907, Wahidin baru pensiun sebagai dokter. 

Bersama Soeradji, Soetomo menghampiri dokter senior, Wahidin. Wahidin berbagi cita-cita dengan mahasiswa calon dokter jawa itu (STOVIA). Soetomo muda begitu terpengaruh, bahkan setelah itu Soeradji pun punya hubungan yang dekat, ia menikahi cucu Wahidin. 

"Dengan anak-anak sekelas saya bicarakan maksud perjalanan Tuan Dokter ini dan dengan bantuan saudara-saudara (kawan kuliahnya) itu dapatlah didirikan suatu perkumpulan pemuda-pemuda di seluruh Jawa guna memperhatikan soal pengajaran terutamanya," kata Soetomo.

Perkumpulan yang dimaksud itu adalah Boedi Oetomo. Sejarah mencatat Wahidin sebagai penggagasnya. Setelah Boedi Oetomo berdiri di Jakarta pada 20 Mei 1908, di Yogyakarta Boedi Oetomo cabang Yogyakarta berdiri setelah sembilan hari kemudian, dan Wahidin jadi ketuanya.

Pada dekade-dekade berikutnya, setelah Soetomo dan kawan-kawan jadi dokter, organisasi Boedi Oetomo berkembang. Perannya besar dalam pergerakan nasional dan organisasi kebangsaan lainnya. Soetomo termasuk yang memuji kiprah Wahidin: "Sungguh benar kalau orang mengatakan bahwa kamulah yang menjadi pelopor pergerakan kita."

Organisasi Boedi Oetomo pada masanya dicap sebagai perkumpulan yang menyalurkan kepentingan masyarakat Jawa. Namun, Wahidin bukanlah sosok yang 100 persen berdarah Jawa. "Salah seorang yang menurunkan dia adalah Daeng Kraeng Nobo, seorang bangsawan Makassar, golongan prajurit, yang dalam zaman Mataram Ke-II (Mataram Islam) dengan pasukannya mendarat di Jawa," tulis Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan: Kenang-kenangan Ki Hadjar Dewantara (1952:188-190). Nobo terlibat dalam perlawanan Trunojoyo melawan VOC yang dibantu kolega-kolega dari Mataram.

Wahidin yang lulusan Tweede Europesche Lager School (ELS kelas dua) Yogyakarta juga lulusan STOVIA Jakarta. Menurut Bambang Eryudhawan, salah satu penyusun buku 100 Tahun Kebangkitan Nasional, sekolah ini adalah sekolah ikatan dinas. Setelah lulus, para Dokter Jawa itu harus mengabdi sepuluh tahun. Jika tidak, mereka harus mengganti biaya pendidikan yang sangat mahal itu. 

Wahidin menjalani masa ikatan dinas itu sebagai dokter pemerintah. Jadi dokter pemerintah, secara langsung ikut menolong bumiputra yang sangat belum sadar pentingnya kesehatan. Namun di luar sebagai dokter, Wahidin sosok orang yang tak bisa diam. 

Ki Hadjar Dewantara mencatat kiprah Wahidin tak hanya soal penggagas Boedi Oetomo dan dokter yang membantu banyak orang, Wahidin juga punya peran menggerakkan perekonomian rakyat. Ia sempat membangun pabrik sabun. "Kira-kira tahun 1895 dokter Wahidin mendirikan pabrik sabun secara kecil-kecilan […] untuk mengajarkan pada rakyat caranya membikin sabun; boleh jadi hanya sebagai eksperimen," tulis Ki Hadjar. 

Di masa itu, penggunaan sabun oleh masyarakat belum semasif saat ini. Saat itu tren yang beredar adalah jenis sabun batangan.

"Dengan membuat sabun sendiri paling tidak kita dapat memenuhi salah satu kebutuhan penting tanpa bergantung kepada orang lain. Tentu saja akan lebih hemat membuat sabun sendiri daripada membeli," tulis Umasih dalam Sejarah pemikiran Indonesia sampai dengan tahun 1945 (2006:471). Usaha Wahidin di industri sabun itu tidak berhasil dan tidak dikembangkan sampai kematiannya 101 tahun atau tepatnya 26 Mei 1917 silam.


(tirto.id - Petrik Matanasi)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Pergerakan ISIS Bertentangan Dengan Modus Operandi Islam

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad